Sastra adalah cerminan budaya dan identitas suatu bangsa. Sastra Inggris dan sastra Indonesia, meskipun berasal dari konteks yang sangat berbeda, memiliki banyak kesamaan dan perbedaan yang menarik untuk dianalisis. Dalam artikel ini, kita akan membahas persamaan dan perbedaan antara kedua sastra tersebut dari berbagai aspek, termasuk tema, gaya penulisan, dan pengaruh budaya.
Sastra Inggris memiliki sejarah yang panjang dan kaya, dimulai dari bahasa Inggris Kuno yang muncul pada abad ke-5. Perkembangan bahasa dan sastra Inggris dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk invasi Norman, Reformasi, dan Revolusi Industri. Penulis terkenal seperti Geoffrey Chaucer, William Shakespeare, dan Charles Dickens berkontribusi besar terhadap pengembangan sastra Inggris, masing-masing dengan gaya dan tema unik yang mencerminkan masyarakat dan zamannya.
Sastra Indonesia juga memiliki akar yang dalam, dimulai dengan tradisi lisan dan berkembang melalui tulisan pada masa penjajahan. Sastra Indonesia mengalami berbagai fase, dari sastra klasik seperti Hikayat dan Serat, hingga sastra modern yang muncul pada awal abad ke-20. Penulis seperti Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko Damono, dan Chairil Anwar adalah contoh penulis yang berkontribusi pada perkembangan sastra Indonesia dengan tema yang relevan dengan konteks sosial dan politik.
Baik sastra Inggris maupun sastra Indonesia sering kali mengangkat tema universal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Keduanya mengeksplorasi isu-isu seperti cinta, kehilangan, perjuangan, dan keadilan. Misalnya, dalam karya-karya Shakespeare, tema cinta dan konflik sosial sangat dominan. Begitu juga, dalam karya Pramoedya Ananta Toer, tema perjuangan melawan penindasan dan pencarian identitas sering kali menjadi fokus utama.
Namun, tema yang diangkat juga dipengaruhi oleh konteks budaya masing-masing. Sastra Inggris, terutama dalam periode romantisisme, sering kali lebih fokus pada individualisme dan pengalaman pribadi, sedangkan sastra Indonesia cenderung lebih kolektif dan berbicara tentang masyarakat dan perjuangan kolektif. Karya-karya seperti Laskar Pelangi oleh Andrea Hirata menunjukkan bagaimana pendidikan dan perjuangan masyarakat bisa menjadi tema sentral, menggambarkan realitas sosial yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
Keduanya memiliki kekayaan dalam gaya penulisan, meskipun sering kali menggunakan pendekatan yang berbeda. Baik penulis Inggris maupun Indonesia sering kali menggunakan simbolisme dan metafora untuk mengekspresikan ide-ide dan emosi. Misalnya, puisi oleh William Wordsworth dan Sapardi Djoko Damono sama-sama menampilkan keindahan alam sebagai refleksi dari perasaan manusia.
Salah satu perbedaan mencolok dalam gaya penulisan adalah penggunaan bahasa. Sastra Inggris, terutama dalam karya-karya klasik, sering kali menampilkan bahasa yang kompleks dan penggunaan struktur kalimat yang panjang. Sebaliknya, sastra Indonesia modern sering kali menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan langsung, mencerminkan gaya komunikasi sehari-hari. Puisi-puisi Sapardi, misalnya, terkenal dengan kesederhanaan bahasanya namun tetap memiliki kedalaman makna.
Sastra Inggris dipengaruhi oleh berbagai aliran budaya, seperti humanisme, romantisisme, dan modernisme. Pengaruh ini terlihat dalam berbagai genre, mulai dari drama hingga novel. Karya-karya seperti 1984 oleh George Orwell tidak hanya memberikan kritik sosial tetapi juga menggambarkan pengaruh budaya yang lebih luas terhadap pemikiran manusia.
Di sisi lain, sastra Indonesia sangat dipengaruhi oleh sejarah kolonial, perjuangan kemerdekaan, dan keberagaman budaya yang ada di nusantara. Sastra sering kali mencerminkan perjuangan melawan penindasan dan penggambaran kekayaan budaya lokal. Misalnya, dalam karya-karya seperti Bumi Manusia oleh Pramoedya, pembaca diajak untuk memahami kompleksitas identitas dan budaya Indonesia di tengah arus sejarah yang tumultuous.
Baik sastra Inggris maupun sastra Indonesia sering kali mengangkat isu gender, meskipun dengan cara yang berbeda. Dalam kedua sastra, perempuan sering kali menjadi objek penggambaran yang menarik, baik dalam konteks perjuangan maupun kekuatan.
Namun, pendekatan terhadap isu gender bisa berbeda. Dalam sastra Inggris, terutama dalam karya-karya modern, penulis sering menggambarkan perempuan sebagai karakter yang kuat dan mandiri. Misalnya, dalam novel Pride and Prejudice oleh Jane Austen, karakter Elizabeth Bennet menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam memilih jalan hidupnya. Di sisi lain, dalam sastra Indonesia, perjuangan perempuan sering kali lebih terkait dengan konteks sosial dan budaya yang lebih kental, seperti yang terlihat dalam karya-karya Dewi Lestari yang mengeksplorasi identitas perempuan di tengah tuntutan masyarakat.
Dengan kemajuan teknologi, baik sastra Inggris maupun Indonesia kini dapat diakses secara lebih luas melalui platform digital. E-book dan situs web sastra memungkinkan pembaca dari berbagai belahan dunia untuk menikmati karya-karya ini tanpa batasan geografis.
Namun, perbedaan dalam akses dan penyebaran tetap ada. Sastra Inggris, yang sudah memiliki infrastruktur yang lebih mapan dalam penerbitan dan distribusi, sering kali lebih mudah diakses oleh pembaca internasional. Sebaliknya, sastra Indonesia mungkin masih memiliki tantangan dalam hal distribusi dan promosi, meskipun usaha untuk memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia internasional terus meningkat.
Perbandingan antara sastra Inggris dan sastra Indonesia menunjukkan bahwa meskipun terdapat banyak persamaan dalam tema dan kekayaan gaya penulisan, keduanya tetap memiliki ciri khas yang dipengaruhi oleh konteks budaya dan sejarah masing-masing. Keduanya menawarkan pandangan yang berharga tentang pengalaman manusia, perjuangan, dan keberanian.
Sumber :
“A Comparative Study of English and Indonesian Literature”